SEPULUH menit menyusuri jalan selebar tiga meter dan dipenuhi warna-warni umbul-umbul iklan di sisi kanan dan kirinya, akhirnya aku beserta rombongan dari PCNU Jember tiba di Pondok Zainul Hasan, Genggong, Kecamatan Pajarukan, Kabupaten Probolinggo.
Setelah menyantap sebungkus nasi yang telah disiapkan panitia rombongan, aku segera keluar dari dalam bus. Aku sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui semeriah apa gawean terbesar warga NU Jawa Timur ini.
Benar-benar tidak seperti yang saya bayangkan. Acara Konferensi Wilayah NU Jawa Timur yang bertajuk Kembali ke Khittah ini membuat saya tertegun untuk sejenak. Puluhan mobil-mobil mewah berjajar rapi di salah satu sisi jalan.
Agak jauh tempat parkir bus yang saya tumpangi dengan pintu utama menuju tempat utama. Namun, suasana ramai nan meriah tetap aku rasakan.
Meskipun rasa letih masih belum lepas dari tubuhku, langkahku tetap ringan melangkah untuk segera mengetahui semeriah apa di dalam area pusat.
Setelah melakukan pendaftaran untuk mendapatkan kartu izin masuk, aku akhirnya bisa menikmati kemeriahan acara yang dimulai pukul 13.00 ini.
Di bawah tenda putih yang dilengkapi kipas angin, peserta antusias mengikuti KONFERWIL. Di depan terpampang wajah dua tokoh NU tempo dulu. Foto Hasyim Azhari terpampang gagah meskipun hanya terlihat wajahnya saja.
Aku tidak peduli dengan orang-orang yang lalu lalang di depanku. Aku seakan terhipnotis dengan kata-kata yang keluar dari bibir Kyai Hasyim Muzadi. Selama ini aku hanya bisa melihatnya di layer kaca, sekarang aku bisa melihat dengan mata kapalu sendiri. Di hadapanku. hilmi
DUNIA PENUH WARNA
Partisipasi
Anda dapat berpartisipasi di blog Dunia Penuh Warna ini. Cukup kirim tulisan anda ke hill_me_marcopollo@yahoo.com atau hilmisetiawan@yahoo.com
Jumat, 02 November 2007
Pembukaan KONFERWIL Penuh Wejangan
MENJADI sebuah agenda terbesar warga NU Jawa TImur, Konferensi Wilayah (KONFERWIL) NU Jawa Timur menyedot banyak perhatian warga nahdliyin. Acara yang dipusatkan di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari (2-4/11).
KH. Hasan Mutawakil, selaku pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, berkesempatan membuka acara KONFERWIL ini. Merangkap sebagai ketua panitia, KH. Hasan Mutawakil mengimbau siapa pun yang terpilih nanti, diharapkan mampu membesarkan eksistensi dan peran NU.
“Saat ini, NU perlu menyumbangkan pemikiran untuk bangsa dan Negara, serta melindungi bangsa dari aliran-aliran sesat, baik lokal maupun internasional.” ujarnya.
Lain dengan KH. Hasan, Ali Maschan lebih menyoroti permasalahan di dalam tubuh NU sendiri, utamanya posisi Islam. “Pada masa para wali dulu, Islam itu berperan menjadi noto ati (Menata Hati). Tetapi sekarang, Islam berubah menjadi noto negoro (Menata Negara).” tukas Ali maschan yang menjabat sebagai Ketua PWNU.
Selain masalah bergesernya fungsi Islam tadi, Kyai Maschan juga meresahkan munculnya konsep Khilafah yang berkembang baru-baru ini. Ia berpendapat jik akonsep Khilafah sudah menjadi tandingan NKRI. “Saat ini yang perlu di-Islamkan itu adalah orangnya, bukan bangsanya.” papar Kyai Maschan.
Terakhir, acara pembukaan KONFERWIL NU JATIM ini ditutup amanat Prof. DR. Hasyim Muzadi, dari PBNU. Beliau menegaskan jika NU Jawa Timur itu besar dan kuat. Tetapi besa pula problem yang ada di dalamnya. “Ini semua terjadi karena factor jumlah tidak diikuti menajemen organisasi. Hingga akhirnya warga NU berjalan sendiri-sendiri.” jelas Hasyim Muzadi.
Dari seluruh orang yang diberi kesempatan berbicara di acara pembukaan KONFERWIL ini, semuanya tidak lupun melontarkan wejangan kepada NU.
Langganan:
Postingan (Atom)